Cerita Sebelumnya:
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 3)
Tak terasa air mata Arum menetes di pipi cantiknya. Ucapan syukur yang amat terdalam meluncur dari bibir indah Arum, saat ia pun bertemu dengan sosok Kusuma, seorang Direktur Perusahaan terkenal di kota metropolis, yang tak lain adalah seorang direktur perusahaan Alex . Perkenalan itu pun berlanjut dengan menjalin hubungan kasih. Kusuma yang memiliki wajah tampan itu terpikat dengan kelembutan dan kecantikan Arum. Arum pun juga merasakan hal yang sama ia terpesona oleh sosok yang bijaksana dan dengan ketulusan hati mencintai Arum apa adanya.” Arumku sayang, ijinkan aku untuk menikahimu......,” ucap Kusuma dengan lembut.” Benarkah, Mas. Aku pasti bahagia sekali. Aku benar-benar tidak percaya. Kenapa Mas memilih aku? Apakah sudah mas pikirkan? Aku hanya wanita biasa, Mas?” tanya Arum.” Aku sudah memikirkannya, sayang. Aku serius! Aku ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku...,giman kamu mau kan?” jelas Alex.” makasih ya, Mas.Aku pasti mau menjadi teman hidupmu untuk selamanya..,” jawab Arum sambil tersenyum. Tak terasa air matanya menetas lembut di pipi halus Arum. Ia begitu terharu denagn ketulusan hati Kusuma yang begitu menghargainya sebagai seorang wanita dan kekasih yang suci, tidak seperti apa yang telah Alex lakukan kepada Arum.
Alex mencoba untuk mendapatkan hati Arum kembali tetapi Arum tidak mau menerima Alex. Ia telah menemukan seseorang yang sangat ia sayangi. Berkali-kali Alex memaksa Arum untuk menerima cintanya, tapi keputusan hati Arum sudah bulat. Ia sudah menjatuhkan pilihan pada sosok Kusuma yang selalu bisa sama-sama mengerti keadaan masing-masing.” Arum, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk mengayuh cinta dalam samudera hatimu! Aku berjanji aku akan mengubah sikapku,” pinta Alex.” Maaf, Mas Alex, aku tidak bisa. Aku terlalu sakit dan terlalu kecewa dengan semua perlakuan itu. Cukup sudah, lebih baik sekarang kita temenan saja,” jelas Arum. Berbagai kata dan rayuian telah Alex ucapkan kepada Arum, tapi keputusan Arum sudah bulat. Alex akhirnya menyerah, meskipun sebenarnya dalam hati kecil Alex masih yakin ia bisa mendapatkan Arum.” Aku pasti bisa mendapatkan kamu, Arum! Tunggu aja...mungkin emang bukan sekarang, tapi nanti...gadis seperti kamu!hah...kecil,” batin Alex.” Aku pasti akan mendapatkan warna jingga itu, warna yang selam ini aku suka, warna kebahagiaan, kekayaan....hah...Aku pasti bisa! Lihat aja nanti!” batin Alex saat ia mengendarai mobil mewahnya pulang dari kantor.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan yang Kusuma pimpin mengalami suatu goncangan perekonomian. Uang kas perusahaan yang masuk lebih sedikit dibanding dengan pengeluaran. Ditambah lagi kualitas kerja beberapa karyawan yang kurang optimal membuat kelangsungan hidup perusahaan itu semakin terancam. Pada saat itulah Kusuma melakukan” pembersihan” perusahaan dan pengawasan ketat mengenai tugas-tugas karyawan yang mulai lalai. Hal ini diperkirakan ada sejumlah orang dalam perusaahaan itu yang bermain curang alias korupsi. Bahkan diperkirakan ada pihak yang memprovokatori kurang maksimalnya kerja para karywan perusahaan itu. Dan ternyata benar, Bapak Andrean, kakak Alex, adalah dalang dari semua ini. Setelah diadakan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata Alex juga terlibat dalam tindakan korupsi itu. Tak lama kemudian, pihak-pihak terkait beserta pihak kepolisian menyita semua harta benda, termasuk seisi rumah dan mobil Pak Andrean maupun harta benda milik Alex untuk melunasi hutang-hutang perusahaan yang telah sekian bulan menumpuk. Bahkan Alex dan Pak Andrean dinyatakan dipecat dari perusahaan Kusuma.
Keadaan seperti itu membuat hati Alex sangat terpukul. Keberadaannya sekarang tidak pernah dipedulikan orang. Alex tidak seperti Alex yang dulu lagi. Saat Alex masih menikmati manisnya hidup, tak pernah sekalipun ia peduli dengan pengemis atau anak-anak jalanan. Tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya untuk sedikit memberikan harta yang telah Tuhan titipkan untuknya. Tapi keadaan sekarang telah berubah,dengan baju seadanya Alex berjalan menyusuri jalan-jalan kehidupan. Jalan kehidupan yang telah ia pilih sendiri dengan cara yang tidak halal. Penyesalan menjalari relung hati Alex. Kembali terlintas dalam bayangan Alex berbagai penghinaan harga diri yang telah Alex lakukan kepada Arum.
Hari Minggu itu, Jakarta sebagai kota metropolitan begitu bersahabat. Suasana pagi itu sangat cerah. Dari kejauhan saat Alex berjalan kembali mengadu nasib di kota itu, terlihat olehnya, Hotel Permata berbintang lima, dipenuhi oleh wartawan dan sejumlah orang penting lainnya. Mobil-mobil mewah dengan hiasan bunga-bunga melati yang indah menghias kaca mobil itu. Warna-warna yang glamour menambah keindahan seni penata artistiknya.
Tiba-tiba tanpa sengaja pandangan mata Alex tertuju pada pernak-pernik ucapan selamat yang di tata sangat indah diletakkan di luar gedung hotel itu. Alex sangat terkejut saat ia membaca nama tulisan yang terpampang dalam ucapan itu” Selamat Menempuh Hidup Baru kepada Pasangan Pengantin-Kusuma dan Arum-Semoga Bahagia”.” Ah, itu pasti bukan Arum yang aku kenal, tidak mungkin ia bisa menjadi suami Kusuma, orang penting dalam perusahaan itu,” gumam Alex. Tetapi kenyatannya Alex benar-benar melihat dari dalam gedung hotel itu, kedua mempelai keluar dengan busana Jawa yang indah. Tampak Arum menggandeng mesra tangan Kusuma. Kedua mempelai itu begitu serasi. Keanggunan dan kecantikan Arum terpancar dari hati dan wajah lembutnya. Tampak kedua orang tua mempelai, sanak saudara, dan sahabat keduanya ikut memeriahkan acara itu. Bahkan wartawan meliput kejadian penting masa-masa indah mereka. Melihat kejadian itu, Alex hanya terdiam kaku. Dia benar-benar tidak percaya dengan semua kejadian itu. Arum, dulu wanita yang sering ia hina dan ia cemooh, bahkan dulu dengan mudahnya Alex menginjak-injak harga diri Arum, kini telah berubah. Warna jingga yang telah Alex impikan, warna keceriaan, kebahagiaan, dan kesuksesan, telah retak dan hancur, sehancur perasaannya sekarang. Alex hanya menatap kosong keramaian kota yang begitu keras itu. Alex hanya bisa diam.”Jinggaku hilang.......,”gumam Alex.
By: Wilujeng Arie A.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga
Cerita Sebelumnya:
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 2)
Sementara di tempat terpisah, Arum juga belum bisa memejamkan matanya. Gelap telah menyelimuti wajah bumi dan sang waktu pun terus berjalan. Tapi malam ini Arum benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih tertuju pada sosok lelaki yang tadi pagi ia temui. Sekilas terlintas bayangan masa lalu yang masih membekas di hati Arum. Pengkhianatan cinta dan penghinaan yang Alex lakukanpada Arum, bahkan pada keluarga Arum, benar-benar membuat harga diri Arum diinjak-injak. Begitu mesranya Alex memberikan alasan-alasan gombal kepada Arum.” Say, sory ya, aku nggak bisa nemuin kamu hari ini, aku masih sibuk say, masih ada kepentingan,” ucap Alex kepada Arum saat mereka masih berpacaran. Kata-kata itu merupakan senjata ampuh bagi Alex setiap dia mulai melakukan sesuatu yang menyimpan dari keadaan yang sebenarnya.” Oya, say, nggak apa-apa kok, aku bisa ngerti, tapi lain kali kamu bisa kan ngluangin waktu buat aku. Aku pengen ngobrol-ngobrol sama kamu,” jawab Arum. Kalimat itupun berkali-kali diucapkan dari bibir mungil Arum, juga dari pesan-pesan singkat dalam inbox ponsel Arum. Arum yang dulu begitu polos, selalu berpositive thinking, bahkan ia selalu mencoba memahami apa keinginan Alex. Arum sadar Alex adalah anak bungsu, sedangkan Arum adalah anak sulung. Jadi setidaknya anak sulung lebih bisa mengalah dan memahami si bungsu, meski umur merekaterpaut 4 tahun, tapi kedewasaan Arum lebih muncul dibandingkan Alex.
Tak lama kemudian Arum mendengan kabar dari teman dekat Alex, kalau ternyata Alex menduakan cinta Arum. Awalnya berita itu tidak pernah digubris oleh Arum, akan tetapi akhirnya Arum mulai merasakan hal-hal janggal dan perubahan sikap Alex. Kelakuan Alex mulai menunjukkan keresahan dan kemarahan Arum. Bahkan dalam satu bulan mereka hanya bertemu dua kali, padahal jarak antara tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh. Saat itu alex menginjak semester akhir jurusan Pertanian di suatu Universitas Negeri, sedangkan Arum masih semester awal jurusan Sastra Indonesia pada Universitas Negeri yang berbeda.
Pernah pada suatu ketikaArum diajak makan malam di sebuah rumah makan mewah. Di situlah awal dari penghinaan dan cemoohan itu ditujukkan pada Arum. Arum dipermalukan di depan teman-teman Alex. Menanggapi cemoohan itu Arum hanya bisa diam, ia masih bisa menahan emosinya. Perlakuan seperti itu tidak hanya dilakkan sekali oleh Alex. Berkali-kali Alex melontarkan kata-kata ejekan halus kepada Arum entah itu tentang cara makannya, cara berjalan, atau bahkan penghinaan secara terang-terangan. Sebenarnya Arum sudah tidak tahan lagi dengan sikap Alex, tapi dia masih mencoba untuk bersabar. Saat Alex mengajak Arum jalan-jalan naik mobil Alex, saat itulah ejekan halus itu dilontarkan.” Say, kamu kenapa ngantuk? Keenakan naik mobil ini ya? Makanya, suruh ayahmu beli mobil sendiri, ntar kalo gak ada yang bisa nyetir, biar aku yang nyopirin. Eh say, kalo mau tidur tukursinya direbahkan dulu, gak bisa ya? Kamu norak banget sih!! Gitu aja gak bisa! Eh say, kamu enak ya gak kepanasan, gak ngluarin uang,” ejek Alex.” Sekarang lebih baik turunkan aku di sini!! Aku bisa kok sampai rumah tanpa mobiil ini pun,” ucap Arum.” Jangan gitu dong! Ntar gak enak sama ayah dan ibu kamu, bener gak??Hehe...Gitu aja marah,” ledek Alex.
Bahkan ejekan lain telah Alex lontarkan kepada Arum.” Say, kamu ngambil jurusan kayak gitu tu mana bisa jamin masa depan! Paling juga hanya dapat gaji kecil nggak cukup buat hidup, sama seperti jejak orang tua kamu!” ucap Alex.” Heh, say, kamu tu kalo ngomong yang bener ya. Kamu boleh hina aku, ngrendahin aku, tapi tolong, jangan kamu bawa-bawa orang tuaku!! Semua ini hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Iya, sih aku tahu kamu tidak sederajat denganku. Kamu bisa nggak sih berhenti hina aku? Say, aku pingin mulai sekarang kita temenan aja!” tegas Arum.” Tidak bisa say, aku gak bisa! Aku gak bisa jauh dari kamu. Kamu terlalu manis untuk dilepaskan begitu aja. Aku masih sayang sama kamu,” bantah Alex.
Begitu sabarnya Arum menjalani hubungan dengan Alex. Bahkan ayah dan ibu Arum pun sama sekali tidak pernah berprasangka buruk kepada Alex. Mereka selalu bersikap ramah saat Alex berkunjung ke rumah Arum. Tetapi pernah pada suatu ketika, saat Arum dan keluarganya benar-benar dalam keadaan terjepit, sedikitpun Alex tidak peka dengan masalah Arum. Padahal dulu, Arum juga sering membantu Alex mengejakan tugas-tugas kuliahnya, menemaninya saat ada masalah, bahkan merawatnya saat Alex jatuh sakit dan jauh dari kedua orang tuanya.” Alex yang dulu sangat berbeda dengan Alex sekarang. Dulu ia begitu dewasa, pengertian dan selalu menjaga sikap,” gumam Arum dalam hati. Jalinan cinta mereka pun putus saat Arum benar-benar melihat sendiri bahwa ternyata Alex memang menduakan cinta Arum. Perasaan sakit tak terhingga pun dirasakan Arum, tapi Arum masih mencoba untuk tetap tegar. Setidaknya, Arum merasa bersyukur Tuhan sudah menunjukkan siapa dia yang sebenarnya sebelum hubungan itu jauh di bawa ke jenjang pernikahan. Meski sebenarnya Alex tidak bisa menerima keputusan Arum karena memang sebenarnya di hati terdalam Alex belum bisa melepaskan Arum, tapi keputusan Arum sudah bulat.
Setelah kejadian itu Alex masih minta kepada Arum untuk tetap masih bisa menjalin hubungan komunikasi, misalnya dalam bentuk sms. Pesan-pesan singkat itu masih sering diterima Arum. Kata-kata Alex tak jauh beda dari kata-kata yang masih digunakan saat mereka masih berpacaran.” Say, aku kangen...banget sama kamu..,” tulis Alex dalam inbox-inbox Arum. Permintaan Alex itu pun dipenuhi Arum, tapi lama-lama kontak komunikasi mereka terputus. Mereka pun semakin jauh. Saat Alex telah diwisuda dari kuliah Pertaniannya, saat itupun ia bekerja di Jakarta. Bekerja di sebuah kantor perusahaan yang cukup terkenal di kota metropolis itu, sedangkan Arum masih kuliah. Arum begitu rajin menjalani hari-hari kuliahnya, meski tak ada Alex di sampingnya lagi, hingga ia menyandang predikat terbaik di kelasnya. Keramahan Arum, kebaikan dan kecantikannya menambah Arum lebih banyak memiliki teman. Prestasi yang cemerlang tak bisa dielak lagi oleh Arum. Setelah lulus dari kuliah Sastra Indonesia, Arum pun mengikuti pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang kebetulan ia jalani saat ia berlibur di rumah saudaranya di Jakarta. Arum pun diterima menjadi pegawai negeri. Ia mengajar di sebuah SMP favorit di kota Jakarta. Arum mengajar dengan sangat profesional dan menerapkan sistem-sistem pengajaran yang menarik dan bermutu bagi siswa-siswanya. Tak segan-segan Arum juga menjadi salah satu guru curhat bagi siswa-siswa SMP itu.” Terima kasih, Bu Arum. Saya jadi lebih lega setelah Bu Arum memberikan nasihat-nasihat,” ucap salah seorang siswa Arum saat dia selesai curhat. Arum pun mengasah kemampuan mengajarnya dengan menggabungkan hobi bermain drama dan seni akting. Arum mendaftarkan diri ke Sanggar Melati tempat Arum mengajar bermain drama sekarang. Kesuksesan Arum pun dapat ia raih. Ia mendapat gaji yang cukup besar, sebagian uangnya ia kirimkan kepada orang tua Arum yang tinggal di kota kecil itu, dan sebagian uangnya ditabung. Ucapan syukur pun menghias di bibir orang tua Arum. Berbagai kenangan masa lalu menghiasi pikiran Arum hingga Arum pun terbuai dalam tidur malamnya.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga
RETAKNYA SANG JINGGA (Bagian 1)
“Selamat Pagi, Mbak Arum!” sapa seorang wanita di seberang jalan. Wanita itu seorang ibu muda yang berjalan dengan anak gadisnya yang kira-kira duduk di bangku kelas lima SD.” Met Pagi juga, Bu!” jawab Arum. Mendengar nama Arum disapa, tiba-tiba di seberang jalan, seorang pria muda membuka kaca mobil Kijang Inovanya. Lalu ia membuka kacamata hitam yang menutupi bola matanya. Ia terus saja memperhatikan Arum yang berjalan ke arah sanggar teater itu.” Sanggar Teater Melati”, nama sanggar itu merupakan salah satu sanggar tempat anak-anak usia SD dan SMP mengembangkan bakat mereka dalam bermain drama.
Pria muda itu bernama Alex. Dia begitu heran melihat keberadaan Arum sekarang. Arum, wanita lembut dengan wajah cantik itu, memakai kerudung merah jambu. Tubuh mungil itu berjalan begitu mantap. Di bahu kanannya menjinjing tas kecil bermerk, senada dengan warna bajunya, sedangkan di tangan kirinya membawa buku-buku berukuran besar. Tanpa basa-basi lagi, Alex pun turun dari mobilnya, ia bergegas menghampiri Arum.” Arum! Kaukah itu??” teriak Alex. Arum pun tersentak kaget.” Mas Alex!!” balas Arum. Mereka pun saling berpandangan, tiba-tiba Arum mengelak dari Alex, sambil membalikkan tubuhnya, pergi setengah berlari.” Arum, tunggu Arum! Arum…!!” teriak Alex.” Ada apa lagi Mas Alex? Nggak nyangka ya, bisa ketemu kamu di sini?” tukas Arum.”Kamu beneran Arum, kan?? Kamu tambah cantik ya sekarang. Tapi…kok kamu ada di sini sih? Kamu ngapain datang ke sanggar ini? Atau jangan-jangan, kamu mau melamar pekerjaan di sini ya?” tanya Alex berturut-turut sambil memicingkan mata. Sambil tersenyum tenang, Arum pun menjawab,” Makasih. Perlu kamu tahu ya di sini aku udah bekerja. Aku ngajar drama anak-anak di sanggar ini, ya...sekalian cari kesibukan,” jawab Arum.”Kamu sendiri kenapa datang ke sini?” tanya Arum lagi.” O…gitu! Kalau aku, aku lagi ngantar keponakanku, kebetulan juga les drama di sin,” jawab Alex cengengesan sambil memainkan bola matanya.” Masih seperti yang dulu,” batin Arum.
“Udah dulu, ya, aku mau masuk!” tukas Arum.” Tunggu dulu, dong, aku masih pengen ngobrol ama kamu!!” sela Alex.” Maaf, aku keburu telat, lain kali saja” jawab Arum sambil bergegas pergi.” Tapi Ar…Arum! Tunggu dulu, Arum…!!” teriak Alex. Arum terus saja bergegas pergi meninggalkan Alex. Dalam hati, Arum benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Alex. Tangan Arum dingin dan gemetar. Ia menyimpan sejuta kenangan bersama Alex. Tanpa disadari air mata menetes di pipi cantik Arum, tetapi dia berusaha tegar. Meski pikirannya kacau, tetapi Arum masih bisa menguasai dirinya. Dia mengajarkan drama dengan penuh penghayatan kepada anak-anak, meski sesekali bayangan Alex terlintas dalam pikiran Arum.
Sementara itu, sampai di kantor, Alex sudah terlambat. Ia bertemu dengan Direktur perusahaan itu, Kusuma, umurnya masih muda, masih seumuran dengan Alex, 28 tahun. Tidak ada sedikitpun kesombongan terpancar dari wajah tampan Kusuma, meski dalam usia muda, ia sudah menjadi seorang Direktur di sebuah perusahaan besar di kota metropolitan itu. Perilakunya sangat bijaksana.” Mas Alex, kenapa hari ini datang terlambat, padahal Anda harus menyiapkan data-data perusahaan untuk segera dipresentasikan dan untuk segera diurus?” tanya Kusuma.” Oh..Maaf, Pak Kusuma, tadi saya ada sedikit urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Iya, Pak data-data itu akan segera saya tangani,” jelas Alex.”O...begitu, ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali tolong anda lebih bisa memanfaatkan waktu dengan baik karena masalah di perusahaan ini tidak main-main. Sekarang silakan Anda bekerja,” jelas Kusuma.” Baik, Pak, akan segera saya laksanakan,” sambung Alex.
Sore harinya, setelah tiba di rumah, Alex langsung mandi dan istirahat di kamar. Kamar yang sudah setahun ia tempati. Rumah itu adalah rumah kakaknya. Kakak Alex telah berkeluarga dan terkenal sukses bekerja di Jakarta. Alex juga bekerja di kantor yang sama dengan kakaknya. Ia bisa lebih cepat bekerja karena ada pihak kakak yang membantu memasukkan dalam perusahaan tersebut. Malam itu, Alex tidak segera memejamkan mata. Ia masih saja mengingat pertemuannya dengan Arum. Alex benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Arum di kota Jakarta ini. Apalagi dengan keadaan Arum sekarang yang jauh lebih cantik dari sebelumnya dan berpenampilan lebih menarik dibanding pada saat mereka masih tinggal di kota kecil itu, kota yang membawa sejuta kenangan. Pikiran Alex kembali menerawang ke masa lalu mereka.” Ah, Arum, aku benar-benar tidak percaya kamu ada di kota metropolitan seperti ini. Mana mungkin seorang wanita biasa seperti Arum bisa dengan mudah bekerja di Jakarta, mapan lagi!!” batin Alex.” Ah, tau deh! Tapi kayaknya....kok aku jadi tertarik ya dengan gadis manis itu. Aku harus bisa mendapatkannya. Gadis polos seperti dia?! Kecil!! Tidak ada apa-apanya,” gumam Alex. Alex tersenyum sendiri.” Ia pasti tidak bisa menolak tawaran cinta dari seorang pangeran sepertiku. Udah kaya! Cakep lagi...Apa sih yang tidak bisa aku dapatkan...”ucap Alex sambil tersenyum sendiri. Sambil terus berangan-angan, Alex pun terlelap dalam tidur dengan balutan selimut sutera dan tempat tidur yang selalu bersih dan nyamanserta ruangan yang selalu dibersihkan oleh pembantu dalam rumah itu.
Label: Cerpen, Retaknya Sang Jingga